Selasa, 29 Maret 2016

Download Ketentuan Standard Detail Struktur

Dalam Proyek konstruksi, terutama gedung. Dibutuhkan banyak acuan dan standar untuk menciptakan suatu konstruksi yang kokok. Hitungan dari Perencana Struktur belum ada artinya, sebelum Ia membuat Gambar rekayasa struktur, yaitu  gambar- gambar yang disiapkan oleh Perencana Struktur yang mencakup secara lengkap catatan- catatan dan informasi penting dalam bentuk yang dapat ditafsirkan tepat dan akurat agar dapat diaplilasika di lapangan.

Kewajiban Perencana Struktur adalah melengkapi persyaratan- persyaratan desain dengan keterangan yang jelas, dan kewajiban Pembuat Detail adalah melaksanakan persyaratan- persyaratan tersebut. Spesifikasi atau gambar- gambar dari Perencana Struktur yang kurang jelas atau kurang lengkap tidak boleh diserahkan begitu saja kepada Pembuat Detail. Perencana Struktur tidak boleh menginstruksikan Pembuat Detail agar mencari sendiri informasi yang diperlukan untuk menyiapkan gambar- gambar pelaksanaan dari suatu referensi tertentu.

Informasi yang diperlukan oleh Pembuat Detail harus ditafsirkan sendiri oleh Perencana Sruktur dan diberikan dalam bentuk detail perencanaan yang spesifik atau catatan yang jelas untuk dipatuhi Pembuat Detail. Jika ditemukan ketidaklengkapan, keraguan, atau ketidakcocokan, maka informasi tambahan, penjelasan, atau koreksi yang diminta oleh Pembuat Detail harus diberikan kepada Perencana Struktur. Dalam proyek konstruksi terutama Gedung, banyak kita jumpai detail- detail perencanaan yang berupa detail penulangan, panjang penjangkaran, bengkokan, kait, sambunga (joint), dll yang semuanya harus akurat untuk menjamin kekuatan struktur yang Kita bangun. Berikut adalah beberapa hal yang harus diperhitungkan.

1. Kait Standar

Pembengkokan tulangan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
  • Bengkokan 180° ditambah perpanjangan 4db, tapi tidak kurang dari 60 mm, pada ujung bebas kait.
  • Bengkokan 135° ditambah perpanjangan 6db, tapi tidak kurang dari 75 mm, pada ujung bebas kait.
  • Bengkokan 90° ditambah perpanjangan 12db pada ujung bebas kait.
Detail dari pembengkokan tulangan dijelaskan pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Kait Standar untuk Tulangan Utama



2. Kait Pengikat dan Sengkang


Ketentuan untuk sengkang dan kait pengikat adalah sebagai berikut :
  • Batang D-8 sampai D-25 bengkokan 135° ditambah perpanjangan 6ds atau tidak kurang dari 75 mm pada ujung bebas kait.
  • Batang D-16 dan yang lebih kecil, bengkokan 90° ditambah perpanjangan 6ds pada ujung bebas kait.
  • Batang D-19, D-22, dan D-25, bengkokan 90° ditambah perpanjangan 12ds pada ujung bebas kait.  
 Tabel 2. Kait Standar untuk Sengkang dan Kait Pengikat
  

Detail dari penggambaran sengkang dapat dilihat pada Gambar berikut :

 Gambar1. Detail Sengkang Secara Umum


Gambar 2.  Detail Alternatif  pada Sengkang

3. Diameter Bengkokan Minimum

Diameter untuk bengkokan minimum tulangan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
  • Diameter bengkokan yang diukur pada bagian dalam batang tulangan tidak boleh kurang dari nilai dalam Tabel 2.2. Ketentuan ini tidak berlaku untuk sengkang dan sengkang ikat dengan ukuran D-10 hingga D-16.
  • Diameter dalam dari bengkokan untuk sengkang dan sengkang ikat tidak boleh kurang dari 4db untuk batang D-16 dan yang lebih kecil. Untuk batang yang lebih besar daripada D-16, diameter bengkokan harus memenuhi Tabel 3.
  • Diameter dalam untuk bengkokan jaring kawat baja las (polos atau ulir) yang digunakan untuk sengkang dan sengkang ikat tidak boleh kurang dari 4db untuk kawat ulir yang lebih besar dari D7 dan 2db untuk kawat lainnya.  
Tabel 3. Tabel Diameter Bengkokan Minimum
 

4. Batasan Spasi Tulangan

Batasan spasi tulangan yang diizinkan adalah sebagai berikut :
  • Jarak bersih antara tulangan sejajar dalam lapis yang sama, tidak boleh kurang dari db ataupun 25 mm.
  • Bila tulangan sejajar tersebut diletakkan dalam dua lapis atau lebih, tulangan pada lapis atas harus diletakkan tepat di atas tulangan di bawahnya dengan spasi bersih antar lapisan tidak boleh kurang dari 25 mm.
Batasan spasi penulangan balok dapat dilihat pada Gambar berikut :


  
Keterangan :
b1        = Jarak bersih antar tulangan
Syarat  = 
> 25 mm> 1,25d dari ukuran agregat maksimum
> 1,5d


Berikut adalah contoh aplikasi detail penulangan di lapangan :

Gambar 4. Hubungan Balok Induk dengan Balok Anak


Gambar 5. Hubungan Joint Balok dengan Kolom Tipe 1

Gambar 6. Hubungan Joint Balok dengan Kolom Tipe 2

Gambar 7. Hubungan Joint Balok induk dengan Balok Anak

Gambar 8. Detail Penulangan Balok Induk

Gambar 9. Detail Penulangan Balok dengan Plat

Gambar 10. Detail Penulangan Balok dengan Plat

Gambar 11. Detail Penulangan Core Lift

Gambar 12. Detail Penulangan Core Lift

Gambar 13. Detail Penulangan Ground Tank

Gambar 14. Detail Penulangan Balok- Kolom

Gambar 15. Detail Penulangan Poer Pondasi Tiang Pancang

Gambar 16. Detail Penulangan Balok Ikat (Tie Beam)


Untuk mendownload Tata Cara Penulangan untuk Struktur Beton dalam format autoCAD bisa download disini. Semoga berman
ejujurnya permasalahan ini masih tergolong sepele dibandingkan permasalahan lain yang bisa timbul di dalam proyek/pekerjaan strucktur dan jalan raya terutama jembatan. mengapa sepele..? karena biasanya pekerja atau tukang/kepala tukang lebih paham masalah perletakan besi dan merangkainya dilapangan, namun terkadang timbul rasa was-was dalam diri pengawas apabila menyangkut kuantitas, dan jumlah serta ukuran yang dipakai sebagai pedoman dilapangan, berdasarkan pemikiran ini penulis coba menyajikan tulisan ini sebagai bahan referensi disaat tiada tempat bertanya disaat kita menghadapi persoalan seperti ini dilapangan.


Secara umum penulangan plat tentu telah kita pahami bersama apa dan bagaimana pekerjaan ini dilaksanakan, namun berdasarkan pengalaman penulis terdapat perbedaan dalam pelaksanaan pembesian plat untuk jembatan dan bangunan. sebagai contoh

Pembesian Plat Lantai | Civilian #13 Red Corner
Pembesian Plat lantai
Nah gambar diatas merupakan rencana pembesian Plat lantai yang penulangannya dasar banget walau di bukuBeton Teknik sipil munkin beda namun prektek dilapangan ya seperti ini, sebagai penjelasan bahwa besi 10 diatur per 15 Cm sepanjang denah bangunan dan yang menjadi perbedaan adalah pembesian momen di 1/2 bentang ditengah karena tulangan teromol terletak dibawah ini dikarenakan tekanan pada plat mengalami tarik di bagian bawah plat.

Jadi pembesian secara detail yang dilakukan dilapangan kira-kira seperti ini.
Pembesian Plat Lantai 2 | Civilian #13 Red Corner
Pembesian Plat Lantai 3D
Terlihat pembesian pada bagian tengah seperti kolam, ini yang biasa terlihat pada pembesian pada plat lantai bangunan. dengan detail seperti ini...
Detail Pembesian Plat Lantai  | Civilian #13 Red Corner
Detail Pembesian Plat Lantai 3D
Nah selesai sudah detail pembesian untuk plat lantai bangunan gedung, contoh yang saya sajikan sangat standart, masih banyak modifikasi diluar sana....
kemudian tinbul sebuah PERTANYAAN bagaimana dengan pembesian plat untuk jembatan dan BOX CULVERT  atauGORONG-GORONG BETON nah di kesempatan ini secara umum dan garis besar di lapangan akan coba saya jelaskan, saya coba ambil sebuah contoh box yang sedang saya kerjakan...

Box Culvert Tampak | CIVILIAN#13
Box Culvert Jalan Putro Ijo
Gambar diatas merupakan gambar modifikasi dari gambar standart gorong-gorong (box Culvert) di Indonesia, terbagi atas 3 macam yaitu:

  • Type Single. (Standar DIRJEN BINA MARGA DEP.PU Dapat di Download di sini )
  • Type Double. (Standar DIRJEN BINA MARGA DEP.PU Dapat di Download di sini )
  • Type Triple. (Standar DIRJEN BINA MARGA DEP.PU Dapat di Download di sini )


Dari gambar diatas terdapat lebih kurang 9 macam besi dengan 3 macam ukuran besi dan 2 macam jarak pembesian yang menarik semua besi ini berada dalam satu bidang, yaitu :



  1. Plat Lantai Bawah Box
  2. Dinding Box
  3. Plat Lantai Atas box
Untuk poin 1 dan 3 hampir sama asal kita telah memahami model atau cara pembesiannya.contoh untuk besi kotak (berwarna merah jambu) bagian bawah tertulis Dia.12 - 25 yang dimaksudkan disini ialah pemakaian besi Dia 12 berjarak 25 cm (orang medan bilang dia - ke dia 25 cm) dan besi tromol berjarak 50 cm dari tromol ke tromol yang berarti jarak antar besi sesungguhnya adalah 17,5 cm...!!!! seperti ilustrasi dibawah ini...

Box Culvert Pembesian | CIVILIAN#13
Pembesian Box Culvert 3D

Gambar diatas sebenarnya menceritakan lebih detail dari yang saya tulis...hihihi.. perbedaan warna sengaja saya buat agar terlihat perbedaan dalam penempatan. dan secara detail seperti berikut..


Box Culvert Pembesian detail | CIVILIAN#13
Pembesian Detail Box 3D

Jadi perbedaan yang paling menonjol dalam 2 hal yang saya ceritakan diatas adalah permasalahan penulisan JARAK PEMBESIAN antara gambar dan pelaksanaan dilapangan tidak seperti pembesian plat lantai pada gedung...



"PEMAHAMAN MERUPAKAN INTI SARI DALAM MELIHAT SATU PERMASALAHAN, DAN DAPAT MENJADIKAN SEBUAH PERBEDAAN"
                                                                                                              CIVILIAN#13



Mohon maaf apabila bahan yang saya sajikan ini mungkin terlalu sepele namun saya yakin banyak dari kita merasa kesulitan jika dihadapkan dengan persoalan ini dilapangan, dan semua tulisan diatas berdasarkan pengalaman penulis Lebih kurang saya Mohon Maaf Selamat menjalankan Puasa di Bulan Ramadhan ini 1 Ramadhan 1443 H


Terima kasih banyak buat Dosen saya di ITM Bapak Thamrin Nasution